| Bukan Sekadar Cari Untung |
| Written by Eko Junaedy | |
| Saturday, 23 September 2006 | |
|
Setiap perusahaan, apa pun bidang yang digeluti, berusaha sekeras mungkin menjalankan roda bisnis untuk memperoleh keuntungan. Hari demi hari, usaha terus berkembang, karyawan makin bertambah, maka modal pun juga bertambah. Penggelembungan jumlah modal ditambah pinjaman dikelola jadi satu sehingga perusahaan makin berkembang. Sedikit demi sedikit laba yang diperoleh disimpan dan kemudian diputar kembali untuk menjalankan roda perusahaan.
Sah-sah saja perusahaan meraih keuntungan sebesar-besarnya demi kemakmuran perusahaan dan karyawannya. Mereka telah memperoleh izin dari pemerintah, menjalankan kewajiban membayar pajak secara benar dan lebih penting lagi menyerap tenaga kerja, terutama penduduk di sekitar perusahaan berdiri. Pemerintah, masyarakat, dan perusahaan terikat satu sama lain dan memiliki peran masing-masing dalam upaya memajukan perekonomian bangsa ini. Lantas, setelah perusahaan meraih untung, karyawan sejahtera, pemerintah mendapatkan pajak, apa langkah selanjutnya? Berpuas diri? Tidak memberikan perhatian terhadap lingkungan dan warga sekitar? Jelas tidak. Perusahaan juga memikul tanggung jawab sosial atau dikenal dengan corporate social responsibility (CSR), di mana hal ini bisa diwujudkan dalam berbagi bentuk dan kegiatan. Di Indonesia, tidak semua perusahaan memiliki kepekaan yang sama akan makna tanggung jawab sosial ini. Mereka tidak salah kalau berpikir sudah ada Departemen Sosial, untuk apa lagi perusahaan dilibatkan menangani amsalah sosial, apalagi mereka sudah bayar pajak? Namun, saat ini zaman semakin maju, masyarakat pun semakin melek pengetahuan dan melek akan hak-hak mereka. Perusahaan tidak bisa lagi hanya hidup bekerja, bekerja dan bekerja tanpa memikirkan tanggung jawab sosial mereka. Para perusahaan asing yang beroperasi di Indonesia telah memasukkan program CSR sesuai dengan kemampuan yang mereka miliki. Seperti PT Newmont Nusa Tenggara (NNT) yang beroperasi di Sumbawa Barat, NTB, CSR difokuskan pada empat pilar utama yakni: infrastruktur, kesehatan masyarakat, pendidikan dan pertanian, serta pengembangan usaha kecil. Menurut laporan majalah Sinar, edisi Maret-April 2006, untuk program pengembangan masyarakat, pada tahun 2003 NNT mengeluarkan dana sebesar Rp21,6 miliar ditambah bantuan dari luar sebesar Rp4,3 miliar yang dikelola Comdev Rp9 miliar untuk membangun bendungan, irigasi, dan prasarana air bersih, Rp2,3 miliar untuk program bantuan sosial, Rp1,3 miliar untuk program beasiswa, dan Rp765 juta untuk program membuka lahan kering. Demikian halnya dengan PT Freeport Indonesia (FI). Perusahaan tambang yang beroperasi di Timika, Papua ini menyisihkan sebagian dari pendapatannya untuk memberi manfaat bagi masyarakat setempat melalui Dana Kemitraan Freeport bagi pengembangan masyarakat. Dana tersebut dikelola oleh Lembaga Pembangunan Masyarakat Amungme dan Kamoro (LPMAK) yang didalamnya terdiri dari wakil-wakil pemda setempat, tokoh-tokoh Papua, tokoh-tokoh masyarakat Amungme dan kamoro serta PT FI. Proyek-proyek dukungan LPMAK ini memberi manfaat secara langsung kepada masyarakat suku Amungme dan Kamoro serta lima suku lainnya di Kabupaten Mimika yakni suku Dani, Moni, Ekari/Mee, Damal dan Nduga. Untuk tahun 2005, jumlah kontribusi untuk dana kemitraan tersebut sebesar 42 juta dollar AS atau dua kali lipat jumlah tahun 2004. Beberapa kegiatan yang didukung LPMAK tahun 2005 antara lain pembangunan dua rumah sakit dan dua klinik kesehatan untuk mengobati 30.000 pasien rawat inap dan lebih 100.000 pasien rawat jalan; beasiswa untuk hampir 5.500 siswa, termasuk 350 mahasiswa S2; kegiatan kebudayaan seperti Festival Kamoro yang dihadiri lebih dari 4.000 peserta. Apa yang dilakukan oleh Putera Sampoerna, melalui yayasan Sampoerna Foundation (SF) pada akhir Agustus lalu dengan menyumbangkan dana Rp1,5 triliun untuk pengembangan pendidikan di Tanah Air memang luar biasa. Majalah Sinar, edisi Juli-September 2006, menyebutkan, Putera yang juga pendiri SF mengatakan ini merupakan lembaran baru SF untuk meningkatkan kualitas pendidikan di Indonesia. Putera berharap dalam 10-15 tahun ke depan Indonesia mampu menjadi 50 besar dalam kelas bisnis se-Asia. Bagi perusahaan besar, dana untuk CSR jelas bukan masalah, seperti contoh di atas. Bagaimana dengan perusahaan kecil yang juga ingin berbuat hal yang sama sesuai dengan kemampuan yang dimilikinya. Bagaimana mendapatkan objek yang betul-betul membutuhkan bantuan dan bagaimana tahu bahwa bantuan yang digulirkan betul-betul diserap dengan baik? Itulah yang selalu mengemuka dalam Konferensi Nasional Community Development, 18 September lalu di Hotel Nikko, Bali. Wakil Bupati Karangasem, I Gusti Lanang Rai, sangat antusias menyambut konferensi ini. Pasalnya, sebagai daerah tertinggal di Bali, Pemkab Karangasem sangat berharap uluran tangan atau kemitraan dengan para pengusaha sehingga potensi Karangasem terangkat, masalah pengangguran teratasi dan otomatis kemiskinan berhasil ditekan. "Kalau ada keinginan, silahkan datang ke Karangasem. Kapan pun investor mau datang, saya siap menerima," kata Lanang Rai. Apa yang diucapkan Wakil Bupati Karangasem ini jelas tidak main-main. Memiliki delapan kecamatan, dengan penduduk berjumlah 389.576 jiwa, hampir sebagian besar lahan di kabupaten ujung timur Bali ini merupakan lahan kering (91,59 persen). Padahal, jika ada investor serius mengembangkan kawasan ini, peluang terbuka lebar di bidang pariwisata, pertambangan, dan pertanian. Di sinilah pengusaha bisa memanfaatkan dana CSR mereka untuk membantu meningkatkan taraf hidup masyarakat, seperti masyarakat di Karangasem sehingga jumlah penduduk miskin tahun 2006 sebesar 41.835 KK bisa berkurang. Oleh karena itu, Lanang Rai sangat berharap konferensi ini memberikan langkah-langkah konkret untuk memajukan wilayahnya. Langkah Lanang Rai ini pun mendapat dukungan dari pakar manajemen, AB Susanto. Ketimbang cuma sekadar wacana, Susanto setuju untuk melakukan aksi nyata. Menurutnya, di Indonesia sungguh sulit mencari atau bertemu dengan para pengambil keputusan. Keprihatinan Susanto ini sangat beralasan, sebab jika tidak pertemuan membahas CSR hanya sekadar wacana. Di masa mendatang, kepedulian perusahaan di bidang sosial sangat diperlukan. Memang betul, perusahaan jangan cuma mengejar keuntungan, tetapi juga dituntut berperan aktif dalam bidang CSR demi memberikan nilai positif bagi perkembangan perusahaan. Konsumen dengan sukarela pasti rela membeli produk lebih mahal seandainya perusahaan secara transparan mau terlibat di bidang sosial dan memberikan pertangungjawaban program CSR yang telah dijalankan. Sementara masyarakat setempat yang merasakan manfaat langsung dari program CSR jelas-jelas akan berupaya mempertahankan dan melindungi kegiatan perusahaan tersebut sampai kapan pun. Pemerintah tinggal mengawasi dan memberikan data secara akurat tempat-tempat yang membutuhkan uluran tangan perusahaan. Bila kegiatan CSR ini terlaksana dengan baik, semua pihak merasa untung, ya pemerintah, perusahaan dan masyarakat. Sumber : Kompas Related News |
