Upcoming Agenda

Sorry, no events to display
Batam Tempat Pembuangan Limbah Internasional
Written by Eko Junaedy   
Wednesday, 17 January 2007
Batam diindikasikan sudah bertahun-tahun menjadi tempat pembuangan limbah internasional yang berdampak negtif ke sepanjang bibir pantai utara dan timur.

Indikasi itu dikemukakan anggota Komisi III Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kota Batam Muhammad Nadir, Rabu ketika meninjau Pantai Belian Tua, Batam yang sejak Minggu (14/1) pantainya dipenuhi limbah B3, campuran oli dan minyak hitam.

Keadaan ini, kata wakil rakyat dari Partai Keadilan Sejahtera (PKS) itu, sering terjadi dari arah Selat Phillip di setiap musim angin utara.

Menurut dia, hal itu berbeda ketika angin bertiup dari selatan atau dari arah manapun.

Hal senada dikatakan Reinhart Hutabarat. Ia mengindikasikan limbah sengaja dibuang saat angin dari utara bertiup, hingga buangan berbahaya itu sampai ke Batam.

"Karena mereka tahu, kita tidak memiliki alat pemantau. Kita lemah," kata anggota Fraksi Partai Damai Sejahtera.

Menurut Reinhart, negara-negara yang membuang limbah itu tidak mungkin menyebarkannya sampai ke Australia, Singapura atau negara lain karena sistem deteksi mereka yang hebat.

Ia pun menolak kemungkinan limbah berasal dari limbah galangan kapal atau industri lainnya yang terdapat di Batam.

Kedua wakil rakyat juga belum dapat memastikan pelaku dan negara asal pembuang limbah tersebut.


Limbah kiriman

Wartawan antara melaporkan sepanjang bibir Pantai Belian Tua sampai Belian terlihat limbah minyak hitam yang berbau seperti oli.

Di sepanjang Pantai Belian, hampir seluruh akar pohon bakau menghitam, akibat minyak yang lengket di kulitnya.

Ikan, kepiting, udang bahkan burung mati di atas minyak hitam yang berhamparan di bawah rumah penduduk yang memang didirikan di atas air laut.

Bahkan, di pantai Nongsa, tepatnya di halaman Widya Cafe, terdapat timbunan minyak hitam kental yang dimasukan ke dalam karung plastik.

Sedikitnya terdapat belasan karung di bibir pantai yang menjadi kawasan wisata itu. Namun menurut warga setempat, Helizar (23) di dalam pasir terdapat ratusan karung goni berisikan minyak hitam.

Ia mengatakan karung plastik itu semula hanyut dari laut pada 27 Desember 2006.

"Memang setiap tahun begitu. Pokoknya kalau sudah ada angin utara, karung-karung ini sampai ke pantai," katanya.

Ia mengatakan, pengiriman pasir berisi minyak hitam itu telah terjadi sejak dulu.

"Tahun berapa saya lupa, yang pasti sudah lama," katanya.

Menurut Helizar, warga sengaja menimbunnya ke pasir agar tidak mengganggu pemandangan wisatawan yang bersantai di pantai itu.

"Selain itu supaya sewaktu air pasang, air tidak naik," katanya.

Sumber : Antara

Related News

  1. Bisnis Sampah Sangat Terhormat
  2. Daur Ulang Ban Mobil Bekas, Untuk Pembangkit Listrik
  3. Kayu dari Limbah Kertas
  4. Kreatif dengan sampah
  5. Mendaur Ulang Lumpur Minyak Menjadi Minyak