|
Masalah persampahan ke depan membutuhkan penanganan serius. Di tempat pengolahan akhir sampah (TPA) Ngipik Gresik saja dari aktivitas domestik maupun industri dihasilkan 578 meter kubik sampah per hari berasal dari 37 depo sampah.
Dari sampah sebanyak itu hanya sebagian kecil yang dimanfaatkan untuk kompos, yakni sampah yang berasal dari tumbuhan dan dedaunan. Sebagian besar sampah lainnya dibuang begitu saja tanpa memiliki nilai tambah secara komersial.
Direktur Vertrieb Abfalltechnic and Recycling Schaefer System International PTE Ltd (SSI Schaefer) Jerman, Ludwig Sham mengatakan pengolahan sampah di TPA Ngipik Gresik sudah bagus, hanya perlu ditingkatkan pengelolaannya kembali (recycle). SSI Schaefer merupakan salah satu perusahaan asal Jerman yang khusus menangani persampahan.
SSI Schaefer tertarik berinvestasi terhadap rencana pengembangan pengelolaan sampah terpadu antara Kota Surabaya, Kabupaten Gresik dan Sidoarjo. Perusahaan ini menawarkan sharing investasi.
“Nanti akan kami hitung berapa persen dana yang ditanggung Jerman. Pemprov Jawa Timur berapa persen, terus Kota Surabaya, Sidoarjo dan Gresik berapa persen. Sehingga kami dapat bersinergi dalam mengelolaan sampah terpadu itu,” ujar Ludwig Sham saat mengunjungi TPA Ngipik Gresik Selasa (30/1).
Bila pengolahan kembali sampah sudah dilakukan dengan baik, TPA Ngipik akan mampu menampung sampah hingga 20 tahun ke depan. Dengan begitu tidak perlu mencari lahan baru lagi,” ujar Ludwig.
Menurutnya jika pengolahan sampah dilakukan dengan baik, orang bisa menikmati lingkungan untuk jangka waktu lama. Sebaliknya bila pengolahan sampah tidak baik, akan merugikan orang banyak.
Ludwig memaparkan 20-30 tahun yang lalu problem sampah di Jerman sama dengan di Indonesia. Saat itu orang Jerman membuang sampah sembarangan. Setelah dimulai dari mendidik tentang pentingnya pengelolaan sampah mulai dari rumah akhirnya sekarang menjadi terbiasa.
“Ini bisa dimulai dengan meningkatkan disiplin masyarakat dalam membersihkan sampah di rumah. Warga juga harus memulai melakukan pemisahan sampah,” kata Ludwig.
Sekretaris Daerah Kabupaten Gresik Husnul Khuluq mendampingi Ludwig menuturkan kebiasaan memperlakukan dan mengelola sampah sendiri di Indonesia harus dimulai sekarang. Dengan demikian 20-30 tahun lagi anak dan cucu kita sudah biasa melakukan pemisahan sampah dan akhirnya lingkungan menjadi bersih.
Diperkirakan dengan metode pemisahan dan pemilahan sampah sekitar 20-30 tahun mendatang lingkungan menjadi bersih. Kepala Subdinas Perkotaaan Dinas Pemukiman Provinsi Jawa Timur Priyo Dharmawan mengatakan perlunya penanganan sampah secara regional.
Proses pengolahan sampah perlu ditingkatkan termasuk perlunya lokasi baru sinergi penanganan sampah terpadu. Pemrosesan sampah memerlukan penanganan serius beberapa tahun ke depan.
Hasil pertemuan di Gresik kemungkinan Selasa malam akan dirapatkan tentang proyek percontohan bagi pengembangan sampah di Surabaya, Gresik dan Sidoarjo. “Harus jelas dulu Pemprov Jatim dalam hal ini berbuat apa, Surabaya, Gresik dan Sidoarjo melakukan apa untuk mendukung konsep pengelolaan sampah terpadu,” jelasnya.
Dia belum tahu dana pendamping yang harus disiapkan. Dia juga tidak bisa mengestimasi berapa dana yang dikeluarkan. “Perlu dilihat prosedur dan aturannya. Ini khususnya menyangkut rencana Pemprov ke depan harus ada sampah regional sehingga belum bisa ditaksir dananya,” ujar Priyo.
Meski begitu lokasi penanganan sampah regional ini tetap seperti semula yaitu di Gresik. Meskipun belum bisa disebutkan tempat pengelolaan sampah regional ini berlokasi di ibukota kecamatan.
“Ini pun perlu dilengkapi dengan sebuah pilot project Selama ini di Gresik ada, Surabaya ada dan Sidoarjo ada pengelolaan sampah. Oleh karena itu diperlukan sample penanganan sampah yang baik. Butuh waktu 5-10 tahun untuk membuat penanganan sampah terpadu antar kota,” kata Priyo.
Namun ini juga perlu melibatkan masyarakat membiasakan hidup bersih dengan memisahkan jenis sampah. “Kalau pada akhirnya sampah dicampur jadi satu ke tempat pembuangan akhir sampah ya sia-sia,” kata Priyo.
Menurutnya yang penting warga membiasakan diri memisahkan sampah basah dan kering. Sekitar 20 tahun lagi asal warga disiplin kota akan menjadi bersih. Dia menambahkan pemilahan sampah mempermudah proses pengelolaannnya.
Sumber : Kompas
Related News
- 10 Titik Sampah di Jakarta Utara Dibersihkan
- 2007, Timbunan Sampah Jakarta Maksimal 6.000 Ton/Hari
- 45 Ton Sampah dalam Sehari di Pekan Raya Jakarta
- 50 Juta Ton Per Thn, Sampah Elektronik Masuk PBB
- Akhirnya kita punya undang-undang pengelolaan sampah
|