Upcoming Agenda

Sorry, no events to display
Baru 53,5 Persen Sampah Terangkut, Minimnya Truk Pengangkut Jadi Kendala Utama
Written by Eko Junaedy   
Tuesday, 13 November 2007

ImagePemerintah Kota Bandung belum mampu mengangkut semua sampah yang dihasilkan warganya. Hingga kini hanya 53,5 persen sampah yang terangkut ke tempat pembuangan akhir atau TPA.

Driejana dari Kelompok Keahlian Pengelolaan Udara dan Limbah Institut Teknologi Bandung (ITB), Selasa (13/11), mengatakan, hanya 53,5 persen sampah di Kota Bandung yang terlayani oleh sistem pengolahan sampah. Selebihnya, 28,8 persen dibakar warga, sementara sisanya dibuang ke sungai, lahan kosong, atau menumpuk di tempat pembuangan sementara (TPS).

 

"Fakta ini berdasarkan hasil penelitian yang kami lakukan dengan menggunakan sampel 700 keluarga," kata Driejana. Mereka yang dijadikan sampel berasal dari berbagai kelas ekonomi yang tersebar pada sebagian besar kecamatan di Kota Bandung.

Data Perusahaan Daerah (PD) Kebersihan Kota Bandung menyebutkan, produksi sampah di Kota Bandung mencapai 7.500,58 meter kubik (m3) per hari, yang bersumber dari permukiman 4.951,98 m3, pasar (618,50 m3), toko, hotel, dan restoran (302,8 m3), industri (798,5 m3), dan sumber lainnya (828,8 m3).

Driejana mengungkapkan, sampah yang terangkut itu pun tidak dikelola dengan baik. Sampah yang semestinya dibuang dengan sistem sanitary landfill, yakni dipadatkan kemudian ditimbun dengan tanah, ternyata hanya ditumpuk begitu saja (open dumping).

Di TPA pun tak dilengkapi dengan pengolahan air lindi dan penyalur gas hasil dekomposisi. Ini dapat mencemari air permukaan, air tanah, dan tanah itu sendiri.


Sumber penyakit

Sampah yang tidak terangkut dapat membahayakan lingkungan dan warga di sekitarnya. Sampah-sampah domestik dan komersial tersebut dapat menyumbat saluran air atau mengotori sungai. Banjir cileuncang yang kerap melanda Kota Bandung adalah salah satu dampaknya.

Jika sampah ditumpuk begitu saja di TPS, menurut Driejana, akan mengundang binatang, seperti tikus atau kecoa. Binatang-binatang tersebut menjadi sumber berbagai penyakit, seperti leptospirosis, disentri, atau tifus.

Selama ini, lanjut Driejana, masyarakat belum mau mengurangi volume sampah dari sumbernya dengan konsep reduce, reuse, dan recyle (3R), serta memilah sampah organik dan anorganik. Padahal, jika konsep itu diterapkan, volume sampah bisa berkurang hingga 70 persen.

"Ini terjadi karena masyarakat pun belum sepenuhnya mengerti. Semestinya, pemerintah menyosialisaikan konsep itu secara berulang-ulang dan detail," ujarnya.

Kalaupun ada sebagian masyarakat menerapkan pemilahan sampah, infrastruktur pemerintah tidak selalu mendukungnya. Driejana memberi contoh, di lingkungan Kampus ITB, sampah sudah dipilah dan diberi tempat masing-masing. Namun, saat diangkut petugas PD Kebersihan, sampah dicampur begitu saja di dalam satu truk. "Jadi, sia-sia upaya pemilahan itu," Driejana menegaskan.

Secara terpisah, Direktur Teknik dan Operasi PD Kebersihan Kota Bandung Cece Iskandar mengakui sampah yang ada di Kota Bandung belum sepenuhnya dapat terangkut. Dalam sehari hanya mampu diangkut sampah dalam 265 truk atau setara 2.650 m3 sampah. "Saat musim hujan malah menurun menjadi tinggal sekitar 245 rit," ujarnya.

Kendalanya, menurut Cece, adalah minimnya truk pengangkut dan diperparah dengan jalan rusak. Idealnya, PD Kebersihan memiliki 140 truk pengangkut sampah. Saat ini baru tersedia 97 truk yang dapat beroperasi dengan baik. (MHF)

Sumber : Kompas