| Ya, Saya Optimis |
| Written by Patty Wiratno/Eko Junaedy | |
| Thursday, 23 December 2004 | |
|
Salah satu masalah yang masih menggerogoti kota Jakarta sampai sekarang adalah sampah. Begitu banyak sampah yang dihasilkan di kota ini setiap harinya dan hanya sebagian saja yang diangkut ke pembuangan akhir, sedangkan sebagian lagi dibuang seenaknya dan tidak pada tempatnya. Tidak usah jauh-jauh, hal itu bisa kita lihat di daerah sekitar perumahan kita sendiri. Terkadang kita ngilu melihat begitu banyak sampah yang dibuang seenaknya di jalan maupun di selokan. Itu baru di sekitar perumahan, daerah lain pasti juga bernasib sama. Oleh karena itu tidak heran bila masalah sampah menjadi perhatian dari setiap kalangan masyarakat Jakarta tanpa kecuali. Nara sumber kita kali ini, Dra. Tri Prihatini Endang Kusumastuti, adalah seorang dosen manajemen yang mengajar di STIE Perbanas, merupakan salah satu dari sekian banyak orang yang prihatin mengenai masalah ini. Berikut petikan wawancara pendeknya.
Bagaimana Anda memandang masalah sampah yang terjadi di Jakarta saat ini? Tidak hanya di Jakarta saja, tapi di Indonesia sampah merupakan masalah besar yang harus menjadi tanggung jawab bersama karena menyangkut sendi-sendi kehidupan yaitu bersih lingkungan (hidup sehat) dan ini nantinya akan berkaitan dengan perubahan gaya hidup, seperti selalu membuang sampah pada tempatnya. Oleh karena itu, menurut saya pendidikan dan komunikasi akan kesadaran pentingnya bersih lingkungan harus diberikan kepada masyarakat sejak dini.
Menurut Anda, bagaimana cara yang tepat untuk menanggulanginya dan siapa-siapa saja yang harus terlibat? Cara yang tepat menanggulangi masalah sampah ini adalah pertama-tama warga/individu harus sadar lingkungan, itu bisa diraih dengan memberi informasi dan pendidikan mengenai dampak sampah bagi sendi kehidupan dan pengelolaannya. Dalam rangka membantu menanggulangi masalah ini, sedini mungkin perlu diberikannya informasi atau pengetahuan mengenai pentingnya bersih lingkungan melalui kegiatan-kegiatan sehingga masyarakat dapat melakukan kegiatan tersebut secara nyata. Bukan sekedar rethorika atau slogan-slogan. Sedangkan yang harus terlibat adalah semua warga di lingkungan tempat tinggal dan instansi-instansi yang terkait termasuk yang paling penting disini adalah peran pemerintah. Maksud saya adalah dalam menangani masalah sampah harus dijadikan program pemerintah yang nantinya didukung oleh semua warga sehingga tercapai lingkungan yang bersih dan sehat.
Menurut Anda, apakah ide seperti daur ulang bisa dipraktekkan di Jakarta? Saya rasa bila disosialisasikan dengan baik, ide itu bisa saja dipraktekkan. Masalahnya adalah sosialisasi. Bila sebuah program yang pada intinya merupakan langkah penting menanggulangi permasalahan sampah bisa melalui tahap sosialisasi yang benar, saya rasa tidak ada yang tidak bisa dipraktekkan. Masalahnya kan masyarakat kita sudah sering curiga dulu sebelum mau mengikuti sebuah program. Cara sosialisasinya adalah menunjukkan bahwa ini untuk kepentingan masyarakat, bukan kepentingan pemerintah semata. Hanya dengan cara itu masyarakat bisa diajak.
Jadi bila semua pihak tersebut memiliki komitmen yang sama, maka Anda optimis masalah sampah di Jakarta bisa ditanggulangi? Apabila masyarakat diberi pengetahuan mengenai lingkungan bersih sehat serta dampaknya terhadap sendi kehidupan, saya percaya akan terjadi perubahan gaya hidup secara bertahap atau kesadaran di masyarakat itu sendiri akan terbentuk sehingga nantinya akan menimbulkan suatu komitmen bersama bahwa program bersih lingkungan perlu mendapat dukungan dari semua pihak. Ya, saya optimis!
Apa yang bisa terjadi apabila masalah ini tidak cepat diatasi? Apabila tidak cepat diatasi tentunya jelas akan mempengaruhi sendi kehidupan masyarakat itu sendiri, karena lingkungan yang tercemar akan berdampak negatif terhadap kehidupan masyarakat baik dalam jangka pendek maupun jangka panjang. Wawancara ini di publikasikan di Buletin Mitra Lingkungan Edisi II Related News |
