Upcoming Agenda

Sorry, no events to display
Kreatif dengan sampah
Written by Magyartoto T.   
Tuesday, 12 October 2004
Oleh: Rhenald Kasali

Acara radio talk di M97FM bertajuk Bedah Bisnis Rhenald Kasali ini telah berlangung hampir empat  tahun. Setiap Senin kami tampilkan seorang pengusaha atau professional, yang menurut kami layak untuk diikuti perjalanan bisnisnya. Hanya beberapa kali Senin saja acara ini absent apabila pada Senin itu bertepatan dengan Lebaran atau hari libur. Artinya, sudah lebih 150 pengusaha dan professional yang kami undang ke studio.

Salah satu tamu yang pernah kami undang adalah Hidayat, seorang pengusaha yang bergerak di bidang agrobisnis. Pekan lalu, Hidayat kembali kami undang, bukan karena tidak ada tamu yang lain. Tetapi, setelah empat tahun, banyak perkembangan yang terjadi yang membuat bisnis tambah maju (atau bertambah mundur pada kasus lain).

Hidayat mengemukakan soal pengelolaan sampah, dalam arti mendaur ulang sampah sehingga mempunyai nilai ekonomis yang baik, dan menyerap tenaga kerja, sekaligus mengatasi masalah sampah.

Di bawah ini adalah catatan saya tentang Hidayat.

Kalau Pemda DKI sudah tidak bisa mengatasi masalahsampah di Bantar Gebang, karena Pemda Bekasi menolak sampah dari DKI, tapi lain halnya dengan Hidayat ini. Betapa tidak. Kalau sampah menurut sebagian orang adalah musibah, tapi di tangan Hidayat, sampah menjadi suatu oppurtinity, menjadi suatu peluang bisnis yang menjanjikan. Namun, tentu saja oppurtinity ini tak bisa dikerjakan sendirian. Melainkan harus dibangun dulu komunitasnya, harus dibangun dulu sistemnya. Seperti yang dilakukan Hidayat ini.

Ia tak hanya menjual mesin pengolah sampah, tapi juga menjual sistemnya, sehingga mereka bisa mengerjakan, memakainya, dsb. Jadi, proses inilah yang dinamakan memberdayakan. Suatu proses yang jika pasarnya belum ada dan mau diadakan, maka pasar itu harus diciptakan, ditimbulkan kebiasaan, termasuk dilatih, diberi alat, sampai mereka mengupayakan entrepreunership. Sehingga, nantinya, dapat menghasilkan entrepreuner-entrepreuner baru. Tentu saja ini diharapkan tidak saja di Jakarta, tapi hampir di seluruh daerah yang mempunyai persoalan sama: sampah.

Namun, sayangnya, kecenderungan di kota yang muncul bukannya pengusaha tapi para pemimpin-pemimpin komunitas itu, seperti RT-nya, RW-nya, pengelola lingkungan. Padahal, semestinya, pengusaha-pengusaha gede melihat peluang ini. Daripada mereka menyewa truk-truk untuk mengangkut sampah, mereka bisa mengelola saja itu sampah. Toh, mereka punya lahannya.

Bahkan mereka bisa memberikan pekerjaan kepada para pemulung dan orang-orang lain di sana daripada menciptakan masalah-masalah baru buat Pemda. Tentu saja semua ini perlu digarap dengan kesungguhan. Kesungguhan agar kita bisa melihat masyarakat bergerak, dan mudah-mudahan ini juga ditangkap komunitas-komunitas lain.

Orang seperti Hidayat ini harus menjadi seorang messenger. Dibangkitkan dan disebarluaskan usahanya, sehingga sampah tidak bertebaran di mana-mana. Tapi, selain dari itu, yang jelas peluang bisnis ini bagus dan menguntungkan. Cuma, masalahnya, terkadang orang pemda itu tidak tertarik dengan masalah-masalah ini karena mereka itu bukan entrepreuner, mereka itu birokrat.

Inilah yang kita bisa lihat, di pemda itu tidak ada orang-orang yang intrapreuner, yaitu karyawan yang berjiwa entrepreuner. Dan masalah yang kedua adalah, mainset mereka itu adalah anggaran. Kalau mesinnya itu seharga Rp 10 juta, maka di mark-up lah, atau diminta komisinya berapa. Nah, selama mereka mainsetnya anggaran, mereka akan cuma menghabiskan anggaran, mereka akan menghabiskan yang besar-besar. Karena itu, sudah seharusnya masyarakat bergerak, dan masyarakat melakukan kontrol serta mendesak pemerintah untuk mengatasi masalah sampah dengan lebih efisien. Jadi, jangan sampai Pemda menghabiskan anggaran seenaknya saja. Tentunya lebih baik memikirkan dan segera mencari jalan keluar persoalan daripada memikirkan bagaimana caranya menghabiskan anggaran.

Related News

  1. 10 Titik Sampah di Jakarta Utara Dibersihkan
  2. 2007, Timbunan Sampah Jakarta Maksimal 6.000 Ton/Hari
  3. 45 Ton Sampah dalam Sehari di Pekan Raya Jakarta
  4. 50 Juta Ton Per Thn, Sampah Elektronik Masuk PBB
  5. Akhirnya kita punya undang-undang pengelolaan sampah