Berita

Baterai Lithium Ion Phosphate Mulai Diminati, Masa Depan Industri Nikel Bagaimana?

Penggunaan baterai jenis lithium ion phosphate atawa LiFePO4 (LFP) pada kendaraan listrik mulai diminati. Pada 6 November 2023 lalu, The Korea Herald memberitakan desas-desus rencana Hyundai Motor Group mengembangkan produk baterai alternatif yang tidak berbasis nikel tersebut untuk produk kendaraan listriknya.

Berdasarkan pemberitaan media lokal, baterai LFP tersebut bakal dipasang pada mode kendaraan listrik di segmen entry-level dan harga menengah Hyundai pada 2025 mendatang. Hanya saja, pihak manajemen Hyundai Motor Group menolak memberi pernyataan resmi soal hal ini.

“Kami ingin berkolaborasi dengan produsen baterai kecil dan perusahaan besar (LG Energy Solution, Samsung SDI, SK On) di Korea,” ujar sumber anonim The Korea Herald yang menolak identitasnya disebutkan, sebagaimana dikutip dari The Korea Herald (6/11/2023).

Di pasar Indonesia, kendaraan listrik produksi Wuling, yakni Wuling Air ev sendiri menggunakan baterai berjenis lithium ion phosphate (LFP). Laman resmi Wuling menyebutkan, perangkat baterai LFP pada Wuling Air ev tersebut telah lolos 16 model uji ketahanan pada berbagai kondisi dan situasi.

“Pengujian ketahanan yang dilakukan pada baterai yang digunakan antara lain adalah tes jatuh, kebakaran, uji rotasi berulang-ulang, rendaman air, benturan hingga uji getaran untuk memastikan baterai mobil listrik aman digunakan sehari-hari,” tulis Manajemen Wuling Motors dalam laman resminya, diakses Jumat (19/1/2024).

Pengamat Otomotif, Bebin Djuana, menduga bahwa ketertarikan pabrikan otomotif untuk menggunakan baterai LFP disebabkan oleh biaya produksi dan juga keunggulan kapasitasnya.

“Kabarnya harganya bisa ditekan hingga 40%, tentu ini penting dalam persaingan. Belum lagi kapasitas yang lebih tinggi,lebih ringan tidak cenderung panas ketika fast charging & lebih stabil ketika menghadapi suhu dibawah nol celsius,” ujar Bebin saat dihubungi Kontan.co.id, Jumat (19/1/2024).

Ketua I Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo), Jongkie D Sugiarto, mengatakan bahwa masing-masing merk punya pendapat dan pertimbangan tersendiri dalam memilih teknologi baterai untuk portfolio kendaraaan listriknya.

“Masing-masing merk punya pendapat dan pertimbangan sendiri, Gaikindo tidak bisa memberi komentar mengenai hal ini (tren penggunaan baterai LFP),” kata Jongkie kepada Kontan.co.id (19/1/2024).

Plh Direktur Eksekutif Indonesian Mining Association (IMA), Djoko Widajatno, tidak menampik bahwa tren penggunaan baterai LFP bisa  mengubah permintaan dan pasokan nikel.

Sebab, baterai LFP menggunakan fosfat besi sebagai katoda, sehingga mengurangi ketergantungan pabrikan baterai/kendaraan listrik pada nikel. Padahal, industri nikel telah lama mendominasi sebagai bahan baku untuk baterai lithium-ion konvensional, terutama yang menggunakan katoda nikel-mangan-kobalt (NMC) atau nikel-kobalt-alumina (NCA)

“Jika baterai LiFePO4 semakin populer dan banyak digunakan, ada potensi untuk mengubah permintaan dan pasokan nikel,” ujar Djoko saat dihubungi Kontan.co.id (19/1/2024).

Kendati demikian, penggunaan baterai LFP, menurut Djoko, belum memiliki dampak signifikan terhadap industri nikel di Indonesia. Sebab, serapan nikel untuk kebutuhan industri dasar lain masih tinggi.

Senada, Ketua Umum Perhimpunan Ahli Pertambangan Indonesia (Perhapi), Rizal Kasli, menilai bahwa tren penggunaan baterai LFP tidak serta-merta membuat masa depan industri nikel menjadi suram.

Ia berujar,  nikel juga dipergunakan sebagai stainless steel (nickel class-2), selain juga digunakan sebagai bahan baku baterai. Nickel class-2 ini, kata Rizal, banyak diperlukan untuk konstruksi, alat transportasi, alat kesehatan-rumah tangga, dan lain-lain.

“Tahun 2040 diperkirakan konsumsi nikel class-2 tetap tinggi dengan persentase 45%, sedangkan untuk baterai precursor sekitar 41% dan sisanya untuk penggunaan lain-lain,” kata Rizal saat dihubungi Kontan.co.id (19/1/2024).

Artikel Terkait

Back to top button