Berita

Benteng Terakhir Konservasi Ex-Situ Flora Nusantara

Indonesia, sebagai negara dengan keanekaragaman hayati terbesar kedua di dunia, memiliki kekayaan flora yang luar biasa. Untuk melestarikan sumber daya alam ini, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mengelola kebun raya sebagai kawasan konservasi tumbuhan secara ex situ. Dalam webinar BRIN Insight Every Friday (BRIEF) ke-119 bertema “Kebun Raya Benteng Terakhir Konservasi Ex-situ Flora Nusantara”, Direktur Pengelolaan Koleksi Ilmiah BRIN, Ratih Damayanti, menjelaskan pentingnya kebun raya dalam melindungi keanekaragaman hayati Indonesia.

Ratih menyatakan bahwa Indonesia memiliki hampir 40.000 jenis tumbuhan, namun saat ini hanya sekitar 10 persennya yang tersimpan di kebun raya. “Kita adalah negara yang sangat kaya dengan berbagai jenis keanekaragaman hayati. Namun, baru sekitar 10 persen dari 40.000 jenis tumbuhan yang berhasil kita simpan,” ujarnya.

Sebagai lembaga yang ditugaskan oleh Undang-Undang (UU) Nomor 11 Tahun 2019, BRIN memiliki tanggung jawab untuk melakukan inventarisasi, identifikasi, dan koleksi ilmiah tumbuhan. BRIN juga bertugas dalam eksplorasi dan rehabilitasi flora, memastikan konservasi yang berkelanjutan. Saat ini, BRIN mengelola delapan koleksi nasional, termasuk botani/herbarium, xylarium, artefak, zoologi, bank biji, geodiversitas, dan mikroorganisme.

Kebun Raya Sebagai Benteng Konservasi

Kebun raya memainkan peran penting sebagai benteng terakhir konservasi ex situ flora Nusantara. Di kebun raya, tanaman yang terancam punah dapat diselamatkan dan dilestarikan. Koleksi di kebun raya termasuk jenis-jenis yang masuk dalam daftar merah International Union for Conservation of Nature and Natural Resources (IUCN) dan Convention on International Trade in Endangered Species of Wild Fauna and Flora (CITES).

Ratih menambahkan, terdapat dua spesies tanaman yang sudah punah di alam liar namun berhasil diselamatkan di kebun raya, yaitu Mangifera casturi dan Brugmansia suaveolens. “Jika kita tidak menyelamatkan tanaman-tanaman ini di kebun raya, generasi muda tidak akan mengenal Mangifera casturi dan Brugmansia suaveolens,” jelasnya.

Selain lima kebun raya milik BRIN (Kebun Raya Bogor, Cibodas, Cibinong, Purwodadi, dan Eka Karya Bali), terdapat 37 kebun raya milik pemerintah daerah dan tiga milik perseroan terbatas, tersebar di 23 provinsi. Kontribusi dari total 45 kebun raya nasional dalam konservasi mencapai 6.623 jenis tumbuhan dan 82.292 spesimen.

Tantangan dan Kriteria Koleksi

Meskipun jumlah koleksi tumbuhan di kebun raya BRIN cukup banyak, namun baru sekitar 10 persen dari total 40.000 jenis tumbuhan yang ada. “Dari 40.000 jenis tumbuhan, baru sekitar 10 persen yang dapat kita simpan di kebun raya. Bahkan, Kebun Raya Bogor yang memiliki hingga 12.000 spesimen, masih menyimpan sebagian kecil dari keanekaragaman hayati yang ada,” terang Ratih.

Kebun raya menetapkan kriteria tertentu untuk jenis tumbuhan yang menjadi target eksplorasi, seperti tumbuhan yang terancam punah, endemik, unik, bernilai ekonomi, ilmiah, dan budaya. “Koleksi di kebun raya dipilih berdasarkan kriteria yang spesifik dan tujuan konservasi yang jelas,” tambahnya.

Jumlah total koleksi tanaman di kebun raya BRIN mencapai sekitar 60.000, yang diperoleh melalui eksplorasi, sumbangan, program pertukaran biji, perbanyakan koleksi, dan secara spontan.

Kebun raya di Indonesia berfungsi sebagai benteng terakhir dalam upaya konservasi ex situ flora Nusantara, memainkan peran penting dalam melestarikan dan melindungi keanekaragaman hayati yang kaya. Melalui upaya eksplorasi dan koleksi yang terstruktur, BRIN berkomitmen untuk menjaga keanekaragaman hayati Indonesia agar tetap lestari dan dapat dinikmati oleh generasi mendatang.

sumber :

https://lestari.kompas.com/image/2024/06/01/062557386/kebun-raya-jadi-benteng-terakhir-konservasi-ex-situ-flora-nusantara?page=2

Konten Terkait

Back to top button