Berita

BRIN Menguatkan Riset dan Inovasi untuk Atasi Krisis Air

Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) sebagai lembaga yang bertanggung jawab atas penelitian dan inovasi di Indonesia, terus menguatkan upaya riset dan inovasi untuk mengatasi dampak perubahan iklim yang mengakibatkan krisis air di berbagai wilayah.

Menurut Deputi Bidang Kebijakan Pembangunan BRIN, Mego Pinandito, pihaknya terlibat dalam berbagai bentuk riset dan inovasi dari hulu hingga hilir, dengan fokus pada pengembangan teknologi. Mego menyatakan bahwa BRIN berusaha untuk menjadi tuan rumah World Water Forum di Indonesia dengan tujuan untuk berbagi dan menyebarkan berbagai program yang telah terbukti sukses untuk diimplementasikan di Indonesia.

BRIN telah berkolaborasi dengan berbagai Kementerian dan Lembaga (K/L) dalam proyek penangkapan air hujan di Tarakan, Kalimantan Utara. Selain itu, riset BRIN juga menghasilkan inovasi seperti Arsinum Mobile, sebuah teknologi penyaringan air dengan tiga tahap penyaringan plus UV, yang mampu menghasilkan 5.000 liter air siap minum dari berbagai sumber air seperti sumur, banjir, dan sungai, untuk digunakan di daerah bencana.

Selain Arsinum Mobile, BRIN juga mengembangkan Airsinum Statis yang bertujuan untuk menyediakan air siap minum di kantor, asrama, pesantren, dan tempat lainnya. Upaya BRIN dalam mengatasi krisis air juga melibatkan pengembangan inovasi seperti penangkap embun kabut, proyek pemompaan air bawah tanah di Gunung Kidul, dan Teknologi Modifikasi Cuaca (TMC) yang memanfaatkan intervensi proses pertumbuhan awan untuk meningkatkan curah hujan.

BRIN juga aktif dalam meningkatkan efisiensi penggunaan air melalui pertanian pintar terintegrasi, pemetaan sumber air tanah dengan menggunakan metode geolistrik, serta pemantauan air tanah secara spasial-temporal menggunakan data satelit dan Jaringan Saraf Tiruan (ANN).

Saat ini, BRIN sedang mengembangkan riset Metal Organic Framework (MOF) sebagai salah satu solusi untuk menangkap uap air, yang diharapkan dapat menjadi solusi dalam mengatasi krisis air di masa depan. Mego menyatakan bahwa beberapa negara maju telah berhasil menangkap kabut untuk dijadikan sumber air, dan Indonesia dengan banyaknya kabut, terutama di daerah dataran tinggi, memiliki potensi besar untuk memanfaatkannya sebagai sumber air bersih.

Konten Terkait

Back to top button