Artikel

Buanglah Sampah ke Kawat Listrik

Judul di atas adalah kalimat kiasan dari model tempat olah sampah setempat (TOSS) dalam skema listrik kerakyatan (LK) sebagai kiasan bahwa apabila sampah bisa diolah menjadi energi listrik maka bisa disalurkan kepada pelanggan melalui kawat listrik yang ada di sekitar TOSS tersebut. Berbeda dengan tempat penumpukan sampah akhir (TPA) yang berapa besarpun luasnya, setiap saat akan penuh,  “Kawat Listrik” dapat menampung setiap saat dan berapaun banyaknya sampah, karena energi listrik langsung habis dipakai untuk kebutuhan manusia seperti penerangan, AC, Kulkas, dan industri. Bahkan di beberapa negara yang telah maju dalam teknologi “waste to energy”  seperti Swedia, mereka harus mengimpor sampah. Tetapi berbeda dengan teknologi WtE yang umumnya menawarkan model skala besar untuk mengolah ribuan ton sampah di landfill (TPA) oleh investor besar, TOSS dirancang untuk pengolahan sampah komunitas dengan skala kecil yang dapat dilakukan oleh rakyat setempat

Bagaimana prosesnya agar sampah bisa diubah menjadi energi listrik?? Cara yang mudah dijelaskan adalah menggunakan konsep pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) dan untuk menghasilkan uap tersebut maka diperlukan bahan bakar  untuk merebus air di dalam boiler atau ketel. Dulunya sempat digunakan kayu bakar atau minyak untuk merebus air tersebut, tetapi saat ini hampir semua PLTU menggunakan batu bara sebagai bahan bakar. Dengan semakin besarnya kepedulian atas dampak lingkungan yang diakibatkan oleh batu bara sementara cadangan energi fosil tersebut juga semakin langka, maka orang kembali melirik penggunaan bio masa termasuk sampah sebagai substitusi atau suplisi batu bara. Cara yang kedua dan lebih cocok untuk TOSS-LK yang skala kecil adalah dengan merubah sampah tersebut menjadi rdf dg proses TOSS lalu rdf dikonversi menjadi gas sintetik (SynGas) untuk menggantikan minyak solar yang diperlukan untuk menjalankan genset. Jadi sebenarnya jenis pembangkit kedua setelah PLTU yang bisa mengolah sampah menjadi energi adalah genset disel seperti yang banyak dikenal oleh masyarakat.

Konversi rdf menjadi syngas dg Gasifier
• Pelet rdf  sampah dipanaskan dengan cara membakar pelet itu sendiri dengan proses yang disebut pyrolisis.
• Pembakaran pyrolisis tersebut menghasilkan permanen gas, abu (char) dan tar atau gas CO, CO2, dan H2
• Selanjutnya gas yang dihasilkan tersebut digunakan

Ada berbagai macam gasifier yang bisa digunakan tetapi hampir semua gasifier yang dijual di pasaran menggunakan biomasa dari bahan yang homogen seperti serbuk gergaji, sekam padi, kaliandra merah dan lain-lain. Gasifier yang digunakan uji coba oleh STT PLN adalah merk Trilion buatan Myanmar yang sebenarnya tidak didisain untuk sampah melainkan untuk cangkang sawit. Tetapi setelah sampah diolah menjadi pelet yang cukup padat, ternyata bisa digunakan dan telah diadkan pengujian reliability run selama 3 hari dan beroperasi selama 5 jam setiap harinya. Walaupun masih ada beberapa kendala yang perlu diperbaiki terkait dengan efisiensi listrik dan kandungan abu dasar dan tar, tetapi model TOSS generasi pertama sudah bisa diluncurkan walaupun masih terbatas penggunaannya untuk NBS (Numpang NBS). Jadi produk mesin WtE untuk TOSS-LK  seri perdana bisa saja kita sebut Gasifier genset type TOSS-IP-NBS01 karena biaya penelitiannya disponsori oleh IP.

Selanjutnya STT PLN dengan PT Indonesia Power telah sepakat melakukan riset bersama untuk mengembangkan dan memperbaiki kinerja dari sistim WtE ini termasuk membuat gasifier  dan PLTU mini buatan sendiri.

Sumber:
Buanglah sampah ke kawat listrik | Supriadi Legino (sttplnsupriadi.blogspot.com)

Konten Terkait

Back to top button