Berita

ITS dan KLHK Ajak Generasi Muda Antisipasi Bahaya Urban Heat Island (UHI)

Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) bekerjasama dengan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) mengajak generasi muda untuk mengantisipasi dan menanggulangi bahaya fenomena meningkatnya suhu pada wilayah perkotaan yang dikenal sebagai Urban Heat Island (UHI). UHI merupakan fenomena alam dimana suhu di daerah perkotaan lebih tinggi dibandingkan dengan daerah sekitarnya.

Rektor ITS Soroti Peningkatan Suhu Perkotaan

Rektor ITS, Ir. Bambang Pramujati, ST., MS.c., Eng., Ph.D., dalam kesempatan di Surabaya pada hari Rabu, menyatakan bahwa fenomena Urban Heat Island (UHI) semakin parah setiap tahunnya. Fenomena ini ditandai dengan meningkatnya suhu di daerah perkotaan yang dialami oleh kota-kota besar di seluruh dunia. “Fenomena tersebut tahun ke tahun semakin parah yang ditandai dengan suhu yang semakin meningkat,” ujar Bambang, yang juga merupakan dosen di Departemen Teknik Mesin ITS.

Bambang menjelaskan bahwa perkembangan industri yang pesat menjadi salah satu penyebab utama dari fenomena UHI. Namun, perkembangan industri ini juga merupakan kebutuhan masyarakat yang tidak bisa dihindari. Oleh karena itu, Bambang menekankan pentingnya usaha untuk meminimalisasi kerusakan lingkungan yang disebabkan oleh perkembangan industri.

BMKG: Peningkatan Suhu dan Konsentrasi Karbon di Indonesia

Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), Dwikorita Karnawati, mengungkapkan bahwa hampir seluruh kota di Indonesia menunjukkan tren peningkatan suhu yang signifikan antara 0,2 hingga 1 derajat Celsius per 30 tahun. Selain itu, Indonesia juga mengalami peningkatan konsentrasi karbon di udara setiap tahunnya. “Hingga sekarang konsentrasi karbon di udara mencapai 415 ppm,” jelas Dwikorita.

Dwikorita menjelaskan bahwa ada beberapa faktor yang menyebabkan terjadinya UHI, termasuk struktur geometris kota yang rumit, minimnya vegetasi, dan efek rumah kaca. Perubahan tutupan lahan menjadi lahan terbangun juga memperparah terjadinya UHI. Kapasitas termal yang tinggi dari material bangunan mengakibatkan panas yang diserap semakin besar, yang kemudian dilepaskan kembali ke lingkungan sehingga suhu di perkotaan meningkat.

Direktur Jenderal Pengendalian Pencemaran dan Kerusakan Lingkungan KLHK, Sigit Reliantoro, menekankan bahwa solusi untuk mengatasi UHI adalah melalui gerakan “climate optimism.” Dalam gerakan ini, masyarakat diharapkan dapat terhubung satu sama lain, terus memperbarui informasi terkait UHI, fokus mencari solusi, dan berupaya mengedukasi orang lain. “Pola pikir tersebut dapat menjadi langkah awal penyelesaian UHI,” ujar Sigit.

Sebagai bagian dari upaya untuk mengatasi fenomena UHI dan meningkatkan kualitas pendidikan serta penelitian di bidang terkait, ITS dan BMKG menandatangani Memorandum of Understanding (MoU). Kerjasama ini bertujuan untuk meningkatkan kolaborasi dalam bidang pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat. Salah satu tujuan utama dari kerjasama ini adalah untuk mencetak 500 doktor baru di lingkungan BMKG guna meningkatkan kualitas dan kinerjanya.

Melalui kerjasama ini, diharapkan dapat terjalin sinergi yang lebih kuat antara lembaga pendidikan dan lembaga pemerintah dalam upaya menghadapi tantangan perubahan iklim dan fenomena UHI yang semakin nyata.

Dengan meningkatnya kesadaran dan keterlibatan generasi muda, serta kerjasama antara institusi pendidikan dan pemerintah, diharapkan upaya untuk mengatasi fenomena UHI dapat lebih efektif. Pentingnya kolaborasi dan edukasi dalam menghadapi perubahan iklim menjadi kunci dalam menjaga keberlanjutan lingkungan dan kualitas hidup di perkotaan.

Sumber:
https://www.antaranews.com/berita/4169160/its-dan-klhk-ajak-generasi-muda-antisipasi-bahaya-uhi

Konten Terkait

Back to top button