Artikel

Listrik Kerakyatan: Karya Untuk Negeri

Gagasan  Listrik Kerakyatan (LK) lahir di kampus sttpln Th 2017 dengan harapan saat itu, agar mampu menjadi solusi defisit listrik  di daerah terpencil Indonesia melalui pemberdayaan masyarakat dan UMKM atau koperasi desa dengan cara  mengolah sampah dan limbah tanaman termasuk semak belukar bahkan eceng gondok  menjadi batu bara nabati yang telah diuji oleh  lab Tekmira ESDM mampu membangkitkan listrik berskala kecil hingga menengah (10 kW – 150 kW) melalui metode Gasifikasi. Selain itu, kampus kami  juga telah berhasil melakukan uji coba atas pengebangan pembangkit hybrid skala kecil yang terdiri dari Pembangkit Surya, Biomassa (antara lain sampah & Kaliandra merah), dan tenaga bayu yang siap untuk diimplementasikan di daerah terpencil. Atas dasar itulah, maka kami harus mengomunikasikan kepada publik bahwa
LK bisa menjawab masalah ketenagalistrikan dan sampah (perkotaan dan industri) sebagai dua isu nasional yang sqmpai saat ini belum kunjung selesai. 

Sektor ketenagalistrikan adalah penopang sejumlah sektor-sektor strategis nasional, sedangkan limbah hasil industri dan masyarakat (organik dan non organik) menjadi suatu kendala yang sampai saat ini belum mendapatkan solusi secara tuntas. lnisiatif Listrik Kerakyatan diharapkan menjadi suatu jawaban atas berbagai dilema pada sistim ketenaga listrikan saat ini.  Sistim kelistrikan konvensional terpusat dan terinterkoneksi merupakan  sistim yang efisien dan handal , namun saat ini mulai menghadapi dilema dalam pembangunannya terutama dalam pembebasan lahan dan pendanaan. Akibatnya banyak proyek pembangunan pembangkit dan transmisi yang terlambat dan mengakibatkan kerugian yang besarnya bisa menganulir keuntungan yang diperoleh dari sistim interkoneksi. 

Sebagai solusi, model Listrik Kerakyatan (LK) yang mengadopsi konsep distributed generation atau pembangkitan skala kecil tersebar dapat dibangun pada lahan kurang dari 1000 m2  di sisi beban atau hilir sehingga tidak  diperlukan transmisi yang sangat mahal biayanya. LK memiliki filosofi 1000×1 = 1×1000, artinya membangun 1 unit 1000 MW oleh investor raksasa yang sarat dengan masalah sama hasilnya dengan membangun 1MW yang lebih sederhana dan bisa dikerjakan lebih cepat secara gotong royong oleh 1000 pengusaha lokal

Dengan berkembangnya LK, maka laju defisit energi listrik  yang saat ini masih terjadi di luar Jawa  bisa diperlambat dan LK merupakan jawaban untuk penyediaan listrik  daerah terisolir dan pulau-pulau terluar yang terlalu mahal biayanya apabila dibangun dengan sistim konvensional. Dengan demikian, LK juga memberikan keuntungan berupa peluang bagi ribuan pengusaha kecil di setiap daerah untuk  menjadi pengembang listrik swasta  yang selama ini hanya didominasi oleh pemodal raksasa dan pihak asing. Dampak positif berikutnya adalah terbukanya lapangan kerja dalam bidang ketenaga listrikan bagi masyarakat di tingkat pedesaan

Listrik Kerakyatan menggunakan energi terbarukan yang ada di sekitar masyarakat yaitu matahari, angin, biogas, dan biomasa sampah  untuk perkotaan dan daun ranting rontikan pohon pohonan termasuk rumput liar untuk di pedesaan. Dengan demikian LK bisa menghemat penggunaan sumber daya fosil dan mengurangi pemanasan global.  Program LK di perkotaan lebih diprioritaskan untuk pengembangan model solusi  sampah  secara gotong royong dimulai dari tingkat desa / kelurahan hingga TPA

Kelayakan keuangan merupakan daya tarik bagi pengusaha lokal dan menjadi kunci keberlanjutan program LK. Untuk itu  pemerintah  harus memfasilitasi agar para pengusaha lokal dan koperasi yang mau menjadi pengembang bisa mendapatkan pemasukan yang memadai dari penjualan energi dan kompensasi pengolahan sampah (tipping fee). Opsi lainnya adalah menyalurkan sebagian dana bantuan sosial dan kredit murah untuk investasi LK bagi pengusaha kecil setempat yang ingin menjadi pengembang listrik kerakyatan. Menurut kajian awal, biaya investasi spesifik untuk paket 2 ton sampah per hari adalah Rp 400 juta rupiah dan biaya operasinya sekitar Rp 90 juta setahun. Dengan pendapatan dari tipping fee yang sama dengan yang dikeluarkan Pemda selama ini dan dari penjualan energi listrik berdasarkan ketentuan pemerintah, maka paket tersebut bisa pulang pokok dalam waktu kurang dari 5 tahun disamping tambahan penghasilan dari hasil penjualan sampah berharga, dan pupuk.

 Tentunya dengan mekanisme insentif berupa bunga bank yang rendah, LK dapat menjadi peluang bisnis yang menarik dan terbuka luas bagi masyarakat.

Untuk itu kami  menghimbau pemerintah untuk mendukung pelaksanaan uji coba lebih lanjut dan mengajak sebanyak mungkin kalangan akademis dan instantsi baik pemerintah maupun swasta beserta koperasi untuk bergotong royong membangun dan menyempurnakan model LK ini untuk menjawab berbagai permasalahan energi dan lingkungan yang dihadapi negara ini.

Sejalan dengan masuknya bulan baroqah Ramadhan, izin berbagi tulisan dan pengalaman seperti tulisan ini, secara serial dalam topik Ramadhan Knowledge Sharing

(Lihat Youtube: https://youtu.be/fOMrudUvdvU)

Sumber:

https://sttplnsupriadi.blogspot.com/2018/07/listrik-kerakyatankarya-untuk-negeri.html

Konten Terkait

Back to top button