Makalah

Mewujudkan Perencanaan Kota Berorientasi Kesejahteraan

Kota telah menjadi pusat perhatian para pengambil kebijakan terutama dengan mempertimbangkan perkembangan pemusatan penduduk di perkotaan yang demikian cepat. Pada tahun 2008, jumlah penduduk perkotaan telah melebihi jumlah penduduk pedesaan untuk pertama kalinya dalam sejarah manusia (Ash dkk, 2008 dalam Capon, 2015). Diperkirakan pertumbuhan penduduk perkotaan dunia tetap meningkat dari 56 persen (2021) menjadi 68 persen (2050), peningkatan tersebut mencapai 2,2 miliar penduduk perkotaan, yang sebagian besarnya tinggal di Afrika dan Asia (Bank Dunia, 2022).
Namun kemudian, kota mengalami beragam masalah, mulai dari kemiskinan, polusi udara, banjir, kemacetan dan lain-lain, yang ditengarai mengancam tingkat kesejahteraan (well-being) dari penduduknya. Ditengarai bahwa hal ini disebabkan oleh kebijakan perkotaan sekaligus perencanaan perkotaan masih didominasi oleh aspek fisik dan masih belum sepenuhnya memberi perhatian pada aspek kesejahteraan penduduk kota.
Pada dasarnya, teori perencanaan telah berkembang secara implisit dari yang sebagian besar berfokus pada pembangunan fisik menjadi lebih banyak pembangunan sosial. Dengan kata lain, praktik perencanaan perkotaan saat ini mulai mengakui beberapa isu sosial dalam masyarakat seperti kesenjangan pembangunan dan ketidaksetaraan sosial. Namun, konteks lokal tetap memainkan peran penting untuk memastikan pembangunan memberikan manfaat bagi berbagai komunitas yang lebih luas (Setiawan, 2014).
Kesejahteraan perkotaan dimaknai sebagai kondisi kesejahteraan yang dialami oleh penduduk perkotaan secara keseluruhan yang terdiri dari tiga fokus kesehatan, kesetaraan dan keadilan, dan keberlanjutan. Dalam kenyataannya, hanya kota besar dunia yang telah mulai berupaya mendorong praktik pembangunan perkotaan berorientasi kesejahteraan, sementara perkotaan negara berkembang masih banyak berkutat hanya pada aspek berkelanjutan.

DOWNLOAD

Konten Terkait

Back to top button