Rencana Strategis

Antara tahun 1983 dan 2023 telah terjadi banyak perubahan dalam usaha pembangunan berkelanjutan yang dicanangkan pada tahun 1982 dan disusul dengan rangkaian konferensi- konferensi international, mencakup konferensi keanekaragaman hayati dan konferensi perubahan iklim, untuk dilaksanakan pemerintah dalam rangka mewujudkan pola pembangunan berkelanjutan, Sustainable Development, sebagai hasil pertemuan konferensi Internasional Rio de Janeiro 1992.

Pada tahun 2022, tiga puluh tahun setelah masyarakat negara-negara dunia melaksanakan konferensi-konferensi tersebut guna mewujudkan pola pembangunan yang berkelanjutan maka hasil yang diumumkan Perserikatan Bangsa-bangsa (PBB, United Nations) untuk program bahwa hasil yang dicapai kedua-dua konferensi tidaklah memuaskan. Apabila Indonesia mencatat penguasaan tropis hutan. Seluas nomer dua di dunia setelah negara Brazil, maka laporan 2022 mengungkapkan bahwa luas areal kehutanan tropis Indonesia telah menderita penurunan yang serius sehingga tergeser dari posisi nomer dua ke nomer tiga negara dengan luas hutan sedunia.

Sedangkan di dalam usaha mengendalikan pencemaran yang mengakibatkan naiknya suhu bumi dari posisi 200 tahun yang lalu menjadi keadaan menaiknya suhu bumi 1-1,50C di atas rata-rata suhu bumi masa revolusi industri yang pertama dan diperkirakan akan berlangsung di antara 2030-2050. Dampak dari perubahan iklim kepada ekosistem dunia sangat luas dan mencakup:

  1. Mencaimya gunung es salju kutub utara sehingga menaikkan muka lautan Hindia & Pasifik dengan potensi menenggelamkan pulau- pulau di lautan tersebut, termasuk Indonesia dari 38 propinsi di tanah air kita sebanyak 28 propinsi terancam kenaikan muka laut dan gejala (land subsidence).
  2. Perubahan iklim berdampak negatif pada curah musim hujan yang cenderung semakin berkurang sehingga menimbulkan krisis air tawar baik untuk konsumsi manusia maupun untuk konsumsi tanaman pangan dan kebutuhan manusia yang bersifat alami. Jenis penyakit baru cenderung meningkat dengan naiknya suhu iklim.

Perubahan iklim yang ditimbulkan oleh proses pencemaran buatan manusia berpangkal pada terciptanya gas rumah kaca yang menjadi penyebab naiknya suhu bumi. Gas-gas rumah kaca
seperti karbon dioksida adalah hasil pencemaran yang dibuat manusia dalam menggunakan batubara dan minyak bumi sebagai sumber energi dengan dampak pencemaran pada udara yang menaikkan suhu bumi.

Maka hakekat krisis lingkungan yang bermuara pada perubahan iklim dan kerusakan alam kehidupan manusia bersumber pada pembuatan, akal, otak, pikiran ilmu, dan pengetahuan ciptaan manusia itu sendiri.

Sehingga jalan pemecahan mengatasi krisis perubahan iklim terletak di tangan manusia yang dituntut untuk bisa memperbaiki kerusakan lingkungan yang telah diciptakannya sendiri. Ini berarti bahwa ilmu sains, teknologi, engineering yang dikembangkan dengan kapasitas akal pikiran, otak kemampuan intelegensi manusia harus dikembangkan guna mengubah gejala perubahan iklim akibat penciptaan gas rumah kaca. Untuk diubah melalui:

Carbon Capture Storage dengan teknologi menyimpan gas rumah kaca dalam perut bumi. Dan teknologi Carbon Capture Utilization juga mulai berkembang untuk menggantikan tenaga alami sehingga energi di perut bumi oleh gas rumah kaca. Maka kembali terbina siklus tanggungjawab pengusaha dan pelaku pembangunan untuk melaksanakan pembangunan yang berwawasan lingkungan.

Maka peranan para pelaku pembangunan dan industriawan serta ilmuwan yang sejak semula mengikat diri untuk mengembangkan pembangunan berwawasan lingkungan harus terus dilanjutkan, diperluas, diperdalam dan digalakkan untuk memerangi ancaman perubahan iklim karena gas rumah kaca buatan manusia untuk ditiadakan, dan dikembangkan udara bersih, sehat dan alami ciptaan lllahi guna menyelamatkan kehidupan manusia dan kemanusiaan. Dalam rangka ini tugas Dana Mitra Lingkungan belum selesai dan harus bangkit menghadapi tantangan keberlanjutan kesehatan lingkungan bagi kelestarian kehidupan manusia di atas jalur lurus ciptaan lllahi.

Jakarta, 23 Oktober 2023

Emil Salim

Nilai

  1. Nilai Universal:
    kesetaraan, keterbukaan, keadilan dan
  2. Nilai Tindakan, terdiri dari:
    • Nilai Kolaboratif
      DML mengedepankan kerja-kerja kolaboratif dalam mendukung pengelolaan SDA dan lingkungan yang berkelanjutan. DML dengan sukarela berbagi pengalaman dan pengetahuan dengan mitra serta menempatkan mitra sebagai teman seperjuangan berdasarkan partitipasi dan keterbukaan.
    • Profesional
      DML selalu mengedepankan aspek profesional dalam bermitra. DML akan selalu menjamin kualitas pekerjaan paripurna serta ketepatan waktu dalam melakukan kemitraan.
    • Integritas
      DML memiliki integritas yang melekat dalam setiap diri staf, dan pimpinan untuk tidak melakukan tindakan korup dan kerugian bagi orang lain.

Tujuan Strategis

Berdasarkan analisa mendalam terhadap rumusan isu strategis telah menghasilkan tujuan strategis DML, yakni:

  1. Tujuan Jangka Panjang (2028-2030)
    • DML menjadi pusat jejaring pembangunan dan pengelolaan SDA dan lingkungan bagi pemangku kepentingan.
    • Organisasi DML merupakan organisasi profesional yang bermartabat dalam mendukung pembangunan dan pengelolaan SDA dan lingkungan yang berkelanjutan.
  2. Tujuan Jangka Menengah (2025- 2027). DML memiliki memampuan yang kompetitif untuk menjalin beragam bentuk kemitraan dengan pemangku kepentingan.
  3. Tujuan Jangka Pendek (2024-2025). DML mempunyai visi, misi dan rencana kerja yang jelas yang layak.
Back to top button