Kegiatan DML

Safari DML

Masa-masa awal usia DML diisi dengan kegiatan pengenalan kepada kalangan dunia usaha. Sepanjang tahun 1984-1985, DML mengadakan safari ke delapan kota: Medan, Palembang, Telukbetung, Padang, Jakarta, Bandung, Surabaya, Ujungpandang. Dalam 15 pertemuan dengan para usahawan, ‘bayi’ DML memperkenalkan visi misi serta programnya. Para pembicara ternama seperti Prof. Dr. Soemitro Djojohadikusumo, Prof. Dr. Emil Salim, Drs. Frans Seda, Tanri Abeng, Ken T. Sudarto, Haroen Al Rasjid, Ir. Yamani Hasan, dan Ir. Siswono Yudo Husodo turut serta dalam acara-acara ini. Topik yang diangkat antara lain “Ecolabel untuk Kelancaran Ekspor” dan “Mengolah Limbah adalah Peluang Usaha yang Berprospek Cerah”.

Selain mengenalkan isu-isu lingkungan yang berhubungan dengan dunia usaha/industri, DML juga melakukan penggalangan dana. Tahun pertama, beberapa perusahaan besar bergabung dengan misi DML, dan mulai menghimpun dana.

Penggalangan dana juga dilakukan dalam beberapa kesempatan lainnya. Salah satunya terkait dengan kedatangan Pangeran Bernhard, tokoh World Wildlife Fund (sekarang World Wide Fund for Nature) pada Oktober 1984. Dua puluh empat usahawan diundang makan siang bersama Sang Pangeran, Menteri Negara (PPLH) Emil Salim, dan Menteri Keuangan Radius Prawiro. Acara yang antara lain disponsori oleh The Jakarta Mandarin dan Tanri Abeng berhasil mengumpulkan dana sebesar Rp.83 juta. Sebagai perbandingan, kurs dolar AS waktu itu sekitar Rp.1.000,- (seribu rupiah).

Konten Terkait

Baca juga
Close
Back to top button