SEJARAH

Selembar sirih, dan tetesan air yang terus mengalir menjadi lambang Dana Mitra Lingkungan (DML). Diperkirakan sekitar 400 juta manusia, atau sepersepuluh penduduk dunia, adalah insan pengunyah sirih. Sirih (Piper betle L.), tanaman merambat yang tingginya bisa mencapai 15 m dan berasal dari kawasan Asia Tropika dan Afrika Timur itu, tergolong keluarga Peperaceae –sekeluarga dengan lada.

Mulanya tumbuh di hutan tropika dataran rendah, sampai ketinggian 700 m di atas permukaan laut, tanaman ini kemudian dibudidayakan. Sirih tumbuh baik di tanah berlempung berat, dan membutuhkan naungan atau lindungan dari matahari dan angin.

Masyarakat Indonesia, mulai dari ujung timur di Irian Jaya hingga ujung barat di Aceh, mengenal sirih. Bagi penduduk Kampung Ormu di pesisir utara Irian Jaya –yang pernah memenangkan “Hadiah Kalpataru” di tahun 1983– tanaman sirih-pinang merupakan komoditi pokok untuk memperoleh penghasilan.

Di Bali, sirih merupakan bagian penting dari persembahan yang harus senantiasa ada. Setiap ragam persembahan terdiri dari tiga unsur: sirih, pinang dan kapur. Di Jawa Timur dan Jawa Tengah, upacara perkawinan ditandai oleh upacara lempar sirih di antara kedua mempelai. Di Jawa Barat, sirih-pinang diserahkan kepada mertua oleh si menantu untuk melambangkan bersatunya dua keluarga.

Hampir di seluruh Indonesia, sajian sirih dan pinang menjadi pembuka suatu kegiatan dan perhelatan. Di Sumba, pembicaraan belum terasa akrab jika tamu tidak mengunyah sirih yang dihidangkan. Bagian besar Nusantara mencatat bahwa untuk menyambut seseorang yang dihormati, diadakan upacara penyerahan sirih dan pinang di cerana. Dari Sumatera dimasyarakatkan ungkapan “Sekapur Sirih” untuk mengawali setiap upaya komunikasi.

Selain menjadi berbagai lambang kehidupan, sirih juga memiliki khasiat praktis. Kebiasaan mengunyah sirih oleh masyarakat pedesaan Indonesia adalah antara lain untuk menyegarkan mulut, bahkan kepustakaan menyatakan bahwa sirih bersifat stimulans dan penenang. Namun kebanyakan orang sepakat bahwa kebiasaan mengunyah sirih membantu memperkuat gigi.

Sirih tidak mengandung alkoloida, namun memiliki kandungan zat gula dan fenol, yang bersifat membunuh kuman. Karena itu, sirih digunakan dalam ramuan obat-obatan. Daunnya yang terasa pedas disebabkan oleh kandungan minyak atsirinya. Sirih juga kaya vitamin B dan vitamin C.

Pada tempatnyalah, bahwa sirih yang secara tradisional dikenal luas di Indonesia, dijadikan lambang DML. Bersama tetesan air yang setelah menyejukkan dan menghidupi daun, terus menetes ke haribaan bumi, menyejukkan dan menghidupi lingkungan yang lebih luas.

SEKILAS DML

Dana Mitra Lingkungan atau (DML) (Friends of the Environmental Fund) didirikan pada tahun 1983 dari gagasan beberapa tokoh masyarakat dan pengusaha. DML menyediakan sebuah forum bagi industriawan Indonesia untuk mendalami akibat dar kegiatan operasional mereka terhadap Lingkungan dari kegiatan operasional mereka dan mencari solusi terhadap tantangan yang sulit dari pembangunan yang ramah lingkungan. Walaupun ada beberapa pendekatan untuk mendapatkan solusi, pendekatan DML yang mengambil jalan tengah berupaya untuk mensosialisasikan metode-metode yang ramah Lingkungan dan dapat memperbaiki kinerja sebuah perusahaan selain juga meningkatkan taraf hidup.

DML mengambil posisi di tengah karena para pemrakarsanya mengerti kompleksitas dari perekonomian dunia disamping masalah pelestarian Lingkungan. Misi DML adalah untuk meningkatkan kesadaran akan pentingnya perlindungan Lingkungan melalui dukungan dunia usaha. Dukungan dunia usaha juga sangat penting terhadap tujuan DML dalam menciptakan keseimbangan antara pelestarian Lingkungan dengan pembangunan negara.

DML secara kontinyu mengangkat masalah polusi udara, pembuangan sampah dan air sungai yang terpolusi yang dipakai oleh jutaan orang sebagai tempat pembuangan dan tempat mandi. Para ahli dan mitra DML bekerjasama erat dengan instansi setempat, masyarakat umum dan industri untuk mempermudah pertumbuhan berbagai usulan yang praktis dan dapat diandalkan serta yang dapat menunjukkan upaya bisnis pendaur-ulangan yang berkelanjutan, dan hubungan antara pencegahan polusi dan peningkatan produktivitas.

PENDIRI

Angin Perubahan (Prof. Dr. Emil Salim)

Dua ratus tahun lalu meletus revolusi di Inggris. Orang tidak lagi terikat pada energi alam, tetapi sudah bisa berproduksi dengan energi “buatan” manusia. Dan sumber daya alam diubah. Teknologi menjadi faktor produksi. Dan faktor produksi diubah. Ekonomi menjadi barang konsumsi untuk memenuhi kebutuhan manusia.

Tapi dunia berputar terus, sehingga roda produksi perlu berputar terus pula. Kalau tidak, pabrik kurang gawe dan buruh terpaksa dihentikan. Apabila semula produksi adalah untuk konsumsi, maka kini berbalik menjadi konsumsi untuk produksi. Dan iklan mendorong orang membutuhkan barang. Nafsu membeli dikobarkan, rasa membutuhkan barang dirangsang terus, sehingga keinginan berkonsumsi mencuat ke atas. Dan konsumsi menarik produksi, lalu produksi menyedot sumber daya alam.

Lalu lahir masalah lingkungan. Sumber daya alam disedot, tinggal bopengan di muka bumi. Alam dikuras habis-habisan. Produksi berhasil, dan keuntungan masuk kantong. Tapi kerusakan alam tidak termasuk perhitungan biaya produksi. Alam adalah gratis, tidak ada yang punya, kecuali Tuhan Maha Pencipta. Tapi siapa ingat kepada Tuhan jika orang sibuk berproduksi dan berkonsumsi?

Dan produksi tidak hanya menghasilkan barang berguna, tetapi juga hasil sampingan tidak berguna. Sampah, limbah, pencemaran adalah hasil sampingan proses produksi. Dan hasil sampingan yang tidak bisa dijual dibuang ke alam. Mengapa? Karena alam itu gratis. Tidak ada sertifikat pemilikan untuk udara, laut, sungai, air, tanah, suara, aroma, dan cahaya. Karena itu, tidak ada yang dirugikan jika sampah, limbah, dan cemaran dibuang ke udara, laut, sungai atau tanah. Kalau pun ada ongkos kelak, ini tidak termasuk ongkos perusahaan. Mungkin ada ongkos di luar perusahaan yang dipikul masyarakat. Ini bukan tanggungjawab perusahaan. Produsen sudah bayar pajak kepada Pemerintah, sehingga kewajibannya kepada masyarakat sudah lunas. Masalah di luar pabrik, bukan urusan produsen, selama tidak menghasilkan uang.

Lalu Pemerintah ambil langkah. Tarik garis. Perusahaan berada di sana, Pemerintah berada di sini. Antara sana dan sini ada ketegangan. Kalau ada pencemaran, sana pikul tanggungjawab. Maka lahir hukum P3 (Polluter Pays Principle). Siapa mencemarkan, harus membayar.Lantas lahir suasana main kucing-kucingan. Jika sini mengawasi ketat, maka sana tunduk peraturan. Jika sini lengah, maka sana memanfaatkan situasi, dan peraturan tidak digubris.

Tiba-tiba peristiwa “Johnson and Johnson” terungkap. Obatnya bercampur racun. Konsumen heboh, citra perusahaan goncang. Tiba-tiba “Dow Chemicals” digugat veteran Perang Vietnam, karena kesiraman “Agent Orange”, bahan kimia beracun. Tiba-tiba pabrik “Union Carbide” di Bhopal membawa bencana, ribuan orang mati, puluhan ribu sakit mata dan ratusan ribu menderita kesedihan.

Di manakah garis pemisah antara sana dan sini? Siapakah memikul tanggung jawab jika keadaan menjadi begini? Di manakah “das Moral”, itu perasaan yang disebut tanggungjawab moral?

Angin perubahan perlu meniup di hati sanubari kita semua. Polusi, pencemaran, dan lingkungan umumnya tidak mengenal garis pemisah “sana-sini”. Gas beracun pabrik Bhopal tidak membedakan orang Pemerintah atau orang perusahaan. Gas yang mencemarkan tidak pilih bulu. Dan ia mematikan. Karena itu, ikhtiar mencegah pencemaran berarti 1) meningkatkan citra perusahaan, 2) memantulkan rasa tanggungjawab moral perusahaan, dan 3) memancarkan kehangatan serta kemanusiawian.

Angin perubahan sudah meniup di tanah air kita. Pada tahun 1983 beberapa pemuka masyarakat berkumpul dan sepakat untuk berbuat sesuatu menyelamatkan lingkungan. Mereka berjabat tangan dengan Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi), suatu forum kerjasama ratusan lembaga swadaya masyarakat (LSM, organisasi non-Pemerintah) yang aktif bergerak mengembangkan lingkungan atas kehendak dan prakarsa sendiri.

Mereka membentuk Dana Mitra Lingkungan (DML). Mereka ingin meniupkan angin perubahan melalui DML. Meniupkan angin lingkungan. Agar kita semua menjadi mitra lingkungan, ya orang Pemerintah, ya orang perusahaan, ya orang perbankan, ya siapa saja.Meniupkan angin kemanusiaan, agar usaha lingkungan berkembang bukan untuk orang-seorang, bukan untuk kelompok atau golongan, tapi untuk seluruh umat manusia. Meniupkan angin kehidupan, agar lingkungan lebih berkembang, mendukung hidup yang lebih berkualitas serta yang lebih layak untuk dihidupi. Semoga berkat DML angin perubahan semakin menderu.28 Oktober 1988

PENDIRI:

Drs. Omar Abdalla (Bank Bumi Daya), Tanri Abeng MBA (PT Multi Bintang Indonesia), Letjen (Purn) D. Ashari (PT Redecon), Peter Z. Baldik (PT Sepatu Bata), Prof. Dr. Sumitro Djojohadikusumo (PT Indo Consult), Drs. Th. M. Gobel (PT National Gobel), Dr. Koesnadi Hardjasoemantri SH (Kantor Menteri Negara Kependudukan dan Lingkungan Hidup), Ir. Yamani Hasan (PT Unilever Indonesia), Kismadi MA (Kantor Menteri Negara Kependudukan dan Lingkungan Hidup), R.G.I Leonard (PT BAT Indonesia), Wisaksono Noeradi (PT Caltex Pacific Indonesia), Brigjen (Purn) Djukardi Odang SH (PT Pantja Niaga), Drs. Jakob Oetama (Harian Kompas), Haroen Al Rasjid (PT Caltex Pacific Indonesia), Mochtar Riady (Bank Central Asia), Prof. Dr. Emil Salim (Menteri Negara Kependudukan dan Lingkungan Hidup), Drs. Frans Seda (PT Narisa), William Soeryadjaya (PT Astra International Inc.), Ken.T. Sudarto (Matari Advertising), Ben D. Wirawan (PT BAT Indonesia), Ir. Erna Witoelar (Wahana Lingkungan Hidup Indonesia), dan Ir. Siswono Yudo Husodo (PT Bangun Cipta Sarana).
Back to top button