Artikel

Tak ada lagi TPA di Klungkung

Klungkung 1

Amanah yang mengembalikan harapan

Klungkung sebagai kabupaten terkecil di pulau Bali, jarang sekali saya kunjungi walaupun telah berpuluh kali kami mengunjungi pulau Dewata, tempat wisata yang terkenal di seantero dunia tersebut. Tetapi dalam bulan ini saya telah dua kali berkunjung ke Klungkung, bukan untuk berdarma wisata tetapi untuk menerima tantangan dari Bupati Klungkung, ketika beliau mengunjungi kampus STT PLN sekitar bulan Agustus yang lalu. Pak Bupati tertarik dengan gagasan kami untuk mengolah sampah melalui pemberdayaan masyarakat setempat tanpa memerlukan kehadiran investor luar dan teknologi asing yang mahal. Klungkung  merupakan daerah yang memiliki arti khusus bagi STT PLN,  karena Tuhan telah mengarahkan kami ke salah satu daerah Kerajaan di Bali tersebut sebagai ranah perdana untuk membuktikan apakah gagasan Listrik Kerakyatan dengan Tempat Olah Sampah Setempat (TOSS) tersebut bisa diamalkan oleh dan untuk masyarakat luas.  Listrik Kerakyatan (LK) merupakan produk inovasi terbuka yang menjadi tema sentral penelitian dan pengabdian masyarakat STT PLN yang dicanangkan sejak tahun 2015.

STT PLN menawarkan gagasan pengelolaan listrik yang selama ini bergantung hampir sepenuhnya kepada pemerintah atau PLN tersebut dengan mendidik dan memberdayakan rakyat setempatn. Inisiatif LK yang ramah lingkungan tersenut bisa dijadikan alternatif untuk mengisi kesenjangan pelayanan listrik ini yang masih sulit menjangkau daerah yang jauh dari jaringan PLN. TOSS-LK yang berbahan bakar briket sampah merupakan andalan pembangkit LK disamping pembangkit listrik biomasa, tenaga surya (PLTS) dan tenaga bayu (PLTB). TOSS merupakan inovasi dari rekan saya dari ITB Angkatan 74, SD Sundadjaya, yang selama tujuh tahun lebih telah menekuni proses yang disebut “peuyeumisasi,” nama unik untuk peragian yang berasal dari bahasa sunda “peuyeum” yaitu tape singkong yang manis tapi tidak lembek.

LK merupakan model pembangkit hibrida dari pembangkit energi terbarukan yang sumbernya ada di sekitar komunitas termasuk sampah sebagai biomasa. Karena itu LK  bisa menjadi solusi permasalahan sampah perkotaan yang dikonversi menjadi energi dengan model TOSS. Keunggulan inilah yang menarik perhatian dan telah disetujui oleh Gubernur DKI yang lama untuk diuji coba secara utuh di kelurahan Pondok Kopi dengan volume sampah 10 ton per hari. Pondok Kopi khususnya RW 10 merupakan tempat yang menjadi inspirasi pertama untuk mengembangkan gagasan “membuang sampah ke kawat listrik. ” Saya termotivasi untuk mengembangkan proses ini setelah melihat kegigihan dan keberhasilan komunitas masyarakat di RW 10 Pondok Kopi dalam mengolah sampah menjadi energi melalui proses digestasi yang kemudian disempurnakan dengan peuyeumisasi. Namun Tuhan berkehendak lain, ketika program ini sudah matang dan tinggal mencairkan pendanaan, tiba-tiba terjadi kegaduhan pilkada di akhir tahun 2016 yang mengakibatkan dipidanakannya Gubernur DKI saat itu. Segala upaya dan biaya yang telah kami keluarkan untuk LK Pondok Kopi tersebut akhirnya terhenti hanya sampai dengan uji coba untuk kapasitas satu ton sampah per hari. Akhirnya program yang telah mendapatkan perhatian dari hampir semua wali kota di DKI dan perusahaan perusahaan daerah di Jakarta terpaksa ditunda menunggu perhatian dari gubernur DKI yang baru.

Awalnya pengolahan sampah di Pondok Kopi hanya terbatas pada sisa makanan dan sampah organik yang dirubah menjadi gas methan yang bisa digunakan untuk memasak atau membangkitkan tenaga listrik bila tersedia dalam jumlah besar. Jenis sampah yang bisa menjadi sumber bau busuk tersebut diolah dengan proses anaerobik menggunakan digester bikinan kang Fatah dari Universitas Padjadjaran. Peluang untuk membangkitkan listrik oleh komunitas kecil di tingkat kelurahan tersebut melahirkan gagasan Listrik Kerakyatan. Sayangnya energi yang dihasilkan dari gas methan sampah sangatlah kecil disamping masih banyak sisa sampah lainnya yang harus dibuang ke TPA. Alhamdulillah, kang Sonny dengan konsep peuyeumisasinya memberikan solusi untuk mengolah segala macam jenis sampah organik menjadi energi listrik dengan energi sekitar 100 kali lipat dari model digester. Cara peuyeumisasi lebih praktis dibandingkan dengan cara pengolahan sampah umumnya yang direpotkan oleh keharusan pemilahan organik-non organik sebelum diolah menjadi pupuk kompos. Pada model TOSS ini,  semua sampah rumah tangga dimasukkan ke dalam bak bambu untuk ditutup dengan plastik tebal setelah disiram dengan bioaktivator, selesai… setelah 3 hari bau sampah akan hilang dan pada hari ke 10 volume sampah sudah berkurang sekitar separuhnya.

Model TOSS menawarkan alternatif untuk menjawab permasalahan pengolahan sampah yang semakin kritis karena hampir semua Tempat Pembuangan Akhir (TPA) sampah di tanah air sudah jauh melebihi daya tampungnya. Demikian mendesaknya problema sampah ini sampai-sampai pemerintah menerbitkan instruksi khusus  program percepatan untuk mengolah sampah menjadi listrik di 8 kota besar. Namun seperti umumnya proyek besar pemerintah, program tersebut akan memakan waktu yang panjang karena harus melewati berbagai prosedur birokrasi, sementara truk pengangkut sampah terus mondar-mandir di tengah kemacetan Jakarta setiap hari. Dalam hal ini TOSS hadir bukan untuk menyaingi tetapi untuk menjadi “back up” atau pendamping program besar tersebut disamping bisa menjadi opsi bagi kota-kota lain di luar 8 kota pilihan pemerintah yang memiliki anggaran terbatas.

Berkat model inovasi terbuka yang diterapkan STT PLN, bergabunglah pakar dan praktisi biomasa yang selama ini terpendam karena karyanya kurang bahkan tidak dihargai. Setelah Fatah dari Unpad, dan Sonny DS dari ITB, berikutnya Prof. Nur Huda, seorang ahli biomasa dari UnBraw, pak Ayus dari Jogya juga berkomitmen membantu tim LK. Para suhu sesepuh yang telah berusia kepala tujuh juga tak ketinggalan menyatakan kesiapannya bergabung termasuk pak Juwito, ahli metalurgi ex LIPI dan pak Samin pakar dan praktisi disel yang semakin langka. Saya juga berbahagia karena rekan-rekan seangkatan saya dari ITB secara spontan ikut membantu mengembangkan Listrik Kerakyatan dan TOSS ini sesuai dengan pengalaman dan keahlian masing-masing. Dalam waktu kurang dari 2 tahun konsep TOSS telah berkembang sampai pada tahap menghasilkan briket atau pelet yang berpotensi besar bisa menggantikan gas elpiji.  Bukan mustahil briket TOSS yang bisa dibuat dalam waktu kurang dari 2 minggu ini bisa menggantikan batu bara alami yang sudah semakin langka dan membutuhkan jutaan tahun untuk membuatnya. Robbana maa Khalaqta hadzal batila.. Allah tidak menciptakan langit dan bumi secara sia-sia…

Angin lembut yang berhembus di pantai Lepang Klungkung seakan ikut menyemangati tim LK STT PLN yang telah dua bulan berada di IPLT, tempat mereka berhasil melakukan pengolahan peuyeum sampah menjadi pelet. Apresiasi kami untuk bapak I Nyoman Suwirta, Bupati Klungkung yang mempercayai kami  yang juga sepakat untuk menerapkan TOSS di seluruh desa Klungkung dan akan menutup tempat pembuangan akhir sampah di Sente akhir tahun 2017 ini, lebih cepat setahun dari rencana semula. Insya Allah peluncuran program TOSS LK sebagai program resmi kabupaten Klungkung akan dilaksanakan pada tanggal 12 Desember di pantai Lepang tersebut….sekarang bola amanah tersebut berada pada tim LK-TOSS STT PLN yang didukung oleh para pakar dari ITB Angkatan 74, suatu amanah ummat yang berat dan memerlukan doa restu dari pembaca yang kami percaya Allah akan senantiasa bersama hambaNya yang berniat baik.. insya Allah

Bekasi 2/12/17

YSL

Yadi Supriadi Legino

Konten Terkait

Back to top button